Parapenduduk desa itu pun tewas tenggelam di rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening. Hanya ada satu penduduk yang selamat, yakni si janda tua yang bersikap baik pada Baru Klinting. Ada beberapa versi legenda mengenai terjadinya Rawa Pening yang ada di Kabupaten Semarang. Salah satunya seperti yang kami bahas di atas. 24df. - Legenda Rawa Pening merupakan legenda yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah. Rawa Pening merupakan danau alami yang memiliki luas ini berada di empat wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang, yaitu Kecamatan Bawen, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Tuntang, dan Kecamatan Banyubiru. Danau terletak di cekungan antara Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Danau menjadi obyek wisata dan tempat memancing ikan menggunakan jala. Cerita Legenda Rawa Pening Legenda Rawa Pening berawal dari sebuah desa yang bernama Desa Ngasem, terletak di kaki Gunung Telomoyo. Baca juga Rute ke Gunung Gajah Telomoyo, Salah Satu Spot Melihat Rawa Pening Desa tersebut dipimpin oleh kepala desa yang arif dan bijaksana yang bernama Ki Sela Gondang. Ia memiliki seorang putri berparas cantik yang bernama Endang Sawitri. Pada suatu hari, desa membutuhkan tolak bala berupa pusaka sakti sebagai syarat agar penyelenggaraan acara merti desa dapat berjalan lancar. Lalu, Endang Sawitri diutus untuk meminjam pusaka sakti milik Ki Hajar Salokantara, sahabat Ki Sela Gondang. Ki Hajar Salokantara memberikan pesan kepada Endang Sawitri supaya ia tidak meletakkan pusaka di atas pangkuannya. Namun di tengah perjalanan, Endang Sawitri melanggar pesan sahabat ayahnya itu. Akibatnya, Endang Sawitri hamil. Ki Sela Gondang memohon supaya Ki Hajar Salokantara mau menikahi putrinya untuk menutup aib keluarga. Dengan berat hati, Ki Hajar Salokantara menerima Endang Sawitri sebagai istrinya. Saat melahirkan, ternyata anak yang dilahirkan berupa naga yang diberi nama Baro Klinting. Untuk melepas kutukan pusaka, Baro harus menemui Ki Hajar Salokantara yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Baro Klinting Bertapa Di Gunung Telomoyo, Baro Klinting harus bertapa melilitkan tubuhnya sampai ke puncak Gunung juga Wisata ke Rawa Pening, Bersih dari Encek Gondok dan Ada Pentas Tari Malangnya, ada sekumpulan warga Desa Pathok yang tengah berburu tidak melihat wujud keseluruhan Baro Klinting. Mereka melihat ekor Baro Klinting dan memotong-motong daging ekornya. Setelah selesai bertapa, Baro mendatangi warga Pathok untuk meminta makanan dan minuman. Namun, keadaan tubuhnya lusuh penuh luka, sehingga ia ditolak warga. Hanya, seorang janda tua bernama Nyai Latung yang memberinya makanan dan minuman. Setelah itu, Baro Klinting menancapkan lidi. Ia mengadakan sayembara, siapa yang berhasil mencabut lidi maka ia adalah orang hebat. Tidak ada satu pun penduduk desa yang sanggup mencabut lidi. Hanya, Baro Klinting yang berhasil mencabut. Saat lidi dicabut, air menyembur sangat deras seperi air bah, penduduk memukul kentongan tanda bahaya. Baca juga Wisata Perantunan di Semarang, Camping Sambil Lihat Indahnya Rawa Pening Mendengar kentongan, Nyai Latung naik ke atas lesung sesuai pesan Baro Klinting. Lama-kelamaan, air bah menjadi genangan luas berbentuk rawa-rawa dengan air yang bening. Nyai Latung menamakan desa yang tenggelam tersebut dengan Rawa Pening. Genangan air bening yang membentuk rawa. Pesan Moral Pesan cerita sifat angkuh atau sombong adalah sifat yang tidak terpuji. Saling membantu dan menolong adalah sifat yang patut dicontoh tanpa memandang latar belakang dan status sosial. Sumber dan Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Rawa Pening – Rawa Pening tentunya dapat dijadikan sebagai alternatif wisata alam ketika anda sedang berada di Semarang. Nah sama halnya seperti contoh cerita fantasi, tentunya ada cerita menarik lho dari keindahan tempat wisata ini. Untuk lebih jelasnya, berikut pembahasannya untuk anda. Biasanya setiap tempat wisata memiliki legenda atau sejarahnya di masa lalu. Nah untuk legenda Rawa Pening, tentunya beberapa masyarakat sekitar meyakini jika dulunya tempat ini pernah ada sebuah desa yang bernama desa Malwapati, yang ditinggali masyarakat yang lumayan banyak. Salah satunya adalah seorang lelaki yang bernama Baru Klintang. Masyarakat sekitar percaya bahwa ia mempunyai ilmu sakti mandraguna. Dituturkan jika Baru Klintang dulunya memperoleh perlakukan buruk dari masyarakat desa karena ia berbau dan bentuk tubuhnya yang ternyata berbeda. Ia pun tidak terima, kemudian ia mengadakan sayembara agar dapat mencabut lidi yang telah ditancapkan ke tanah. Namun hampir semua penduduk yang mengikuti sayembara tak ada satupun yang bisa mencabut lidi tersebut selain Baru klintang. Selain itu, siapa yang menyangka bahwa selepas tercabutnya lidi tersebut dari tanah, dari dalam tanah tiba-tiba saja bermuncratan air dengan jumlah yang banyak sampai menenggelamkan desa Malwapati, dan akhirnya saat ini menjadi area dari danau Rawa Pening. Walaupun hanya sebagai cerita masa lalu saja yang belum pasti akan kebenarannya, tetapi cerita legenda tersebut hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat juga percaya jika Baru Klintang ini masih hidup tetapi menjelma sebagai ular naga yang katanya hingga sekarang masih mendiami area Rawa Pening. Selain itu, hingga saat ini pun masih diadakannya ritual-ritual untuk penyerahan sesajen pada danau ini. Hal ini bertujuan supaya tidak menimbulkan bencana untuk masyarakat sekitar. Mengenai penamaan Rawa Pening ini sebenarnya mencerminkan keadaan atau kondisi danau yang airnya begitu jernih. “Rawa” sendiri adalah rawa atau danau. Untuk kata “Pening” sendiri adalah jernih, dengan begitu ketika disatukan dan diartikan adalah danau berair jernih. Keindahan Rawa Pening Tahukah anda bahwa salah satu daya tarik yang dimiliki oleh danau ini yaitu alamnya yang begitu tenang. Bahkan tidak hanya rawa saja yang dijadikan sebagai pesona andalan, namun kawasan sekitarnya pun dikelilingi oleh lanskap lahan pertanian yang hijau. Selain itu, dikarenakan lokasinya di sekitar pegunungan, sudah pasti suasana khas pegunungan bisa anda rasakan melalui kawasan rawa ini. Saat mendatanginya ketika cuaca sedang cerah, maka anda juga bisa melihat Gunung Merbabu dan Gunung Ungaran. Di tempat ini juga telah disiapkan dengan beberapa pilihan wahana yang dapat anda gunakan untuk menemani beraktifitas saat berada di sini. Nah, dengan beberapa keindahan dan wahana yang disediakan, yuk berlibur ke Rawa Pening. Rawa Pening Legenda dan Ceritanya yang Terkenal di seluruh Penjuru Nusantara Dongeng anak adalah cerita fiksi, cerita rekaan, cerita khayalan, atau cerita yang tidak benar-benar terjadi di dunia nyata, yang diperuntukkan bagi anak-anak. Dongeng juga disebut sebagai cerita rakyat tradisional yang diceritakan secara lisan, turun temurun, dan bertujuan untuk menghibur dan menanamkan nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral di dalam dongeng biasa disampaikan melalui tokoh-tokoh di dalam dongeng. Tokoh itu sendiri bisa manusia, bisa juga binatang fabel Baca Pengertian tokoh dan jenis-jenis tokoh di dalam cerita Dongeng bisa disampaikan sebagai cerita sebelum tidur. Dengan mendengarkan dongeng sebelum tidur, anak akan berlatih berimajinasi. Selain itu, penamanan karakter dan nilai-nilai moral akan terbangun dan terbentuk dengan lebih baik. Nah, dalam kesempatan ini, kami akan mengisahkan tentang Legenda Rawa Pening. Legenda adalah salah satu bentuk dongeng, yang biasanya diartikan sebagai cerita rakyat zaman dahulu yang berkaitan dengan peristiwa atau asal usul terjadinya suatu tempat. Legenda Rawa Pening adalah cerita rakyat Jawa Tengah yang menceritakan tentang terjadinya Danau Rawa Pening yang terdapat di Kabupaten Semarang, dan diapit oleh tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Banyubiru, dan Kecamatan Tuntang. Berikut ini adalah Cerita Legenda Rawa Pening secara ringkas, dalam sebuah versi anak-anak. Baca Juga dongeng-dongeng berikut ini Dongeng Anak - Ada maksud di balik kebohongan Dongeng Anak - Kisah Putri Buruk Rupa Bagai Bumi Berhenti Berputar - Clara Ng Dongeng Anak Legenda Rawa Pening [Jihan - Siswi SD Labschool Unnes berlatih mendongeng Legenda Rawa Pening - klik untuk memutar video] Pada zaman dahulu, di Desa Ngasem, hiduplah seorang perempuan dengan seorang anak. Anak itu bernama Baru Klinting. Baru Klinting tidak berwujud manusia, namun berwujud ular. Meskipun begitu, Baru Klinting dapat berbicara layaknya manusia. Suatu hari ketika Baru Klinting telah beranjak dewasa, ia bertanya kepada Ibunya. "Ibu, siapakah Ayahku dan dimanakah ia sekarang?" Ibunya tersentak karena tidak biasanya Baru Klinting bertanya seperti itu. Ia kemudian menjawab, "Ayahmu bernama Ki Hajar Salokantara. Ia sedang bertapa di Lereng Gunung Telomoyo. Pergilah dan temuilah Ayahmu, Baru Klinting." Mendengar penjelasan Ibunya, Baru Klinting merasa sedikit ragu. Bagaimana bila nanti Ayahnya tidak mau mengakuinya sebagai anak? "Bagaimana aku bisa meyakinkan Ayah, bahwa aku memang benar-benar anaknya?" "Bawalah lonceng klintingan ini, sebagai bukti bahwa kau memang putera Ki Hajar Salokantara!" jawab Ibunya. Baru Klinting pun meminta restu kepada Ibunya untuk pergi menemui Ki Hajar Salokantara. Hingga tibalah Baru Klinting di Lereng Gunung Telomoyo. Ia sampai di depan goa tempat pertapaan Ki Hajar Salokantara. Baru Klinting memperkenalkan dirinya dan menceritakan maksud kedatangannya, sambil memperlihatkan klintingan lonceng pemberian Ibunya. Ki Hajar Salokantara mengamati dengan seksama lonceng tersebut. Dia mengakui bahwa lonceng itu memang miliknya, yang dia berikan kepada istrinya dahulu sebelum pergi bertapa. Namun, Ki Hajar ingin meminta satu bukti lagi kepada Baru Klinting bila ingin diakui sebagai puteranya. "Baiklah, bila kau memang benar-benar puteraku, lingkarilah Gunung Telomoyo ini selama satu tahun, dan kau akan berubah wujud menjadi seorang manusia!" "Baiklah, Ayah," jawab Baru Klinting. Kemudian, Baru Klinting pun mulai mengitari Gunung Telomoyo. Baru Klinting sangat bersungguh-sungguh akan tekadnya, sehingga lama kelamaan tubuhnya tertutupi oleh belukar, lumut, dan tanah. Hingga pada suatu hari, penduduk desa ingin mengadakan hajat/pesta. Penduduk desa pergi ke hutan dan gunung untuk mencari hewan buruan. Namun, lama sekali mereka tidak mendapatkannya. Mereka lelah dan duduk-duduk di atas belukar. Salah seorang penduduk desa kemudian menancapkan pedangnya ke sebatang akar pohon. Dia terkejut ketika akar pohon tersebut mengeluarkan darah segar yang berbau amis. Dia lebih terkejut sekaligus gembira, karena yang dikiranya sebagai akar pohon tadi ternyata adalah tubuh seekor ular besar. Penduduk desa pun bersorak sorai kerana mendapatkan daging ular besar. Mereka memotong-motongnya untuk digunakan sebagai hidangan pesta. Ketika penduduk desa tengah berpesta, datanglah seorang anak kecil kurus yang penuh luka, dengan pakaian compang-camping, dan badannya sangat amis seperti bau seekor ular. Anak kecil itu adalah penjelmaan dari ular Baru Klinting yang telah dipotong-potong tubuhnya oleh penduduk desa. Baru Klinting yang kini telah berwujud anak kecil, merasakan perutnya sangat lapar dan ia bermaksud meminta sedikit makanan kepada penduduk desa. Sayangnya, penduduk desa itu sangat angkuh, kikir, dan tidak memiliki belas kasihan kepada Baru Klinting. Ketika Baru Klinting datang mendekat, mereka mengusirnya dengan kasar, memaki-makinya, bahkan menendangnya. Baru Klinting sangat sedih. Dia terus berjalan sambil menangis, hingga tibala dia di sebuah gubug tua yang ditinggali oleh seorang nenek tua. "Anak kecil, mengapa kau bersedih? Pergilah ke pesta, di sana banyak sekali makanan lezat!" kata nenek tua itu kepada Baru Klinting. "Aku dari sana, Nek. Namun, tak seorang pun yang memberiku makanan, bahkan mereka mengusirku karena jijik melihat tubuhku yang penuh luka koreng dan bau tubuhku sangat amis," ucap Baru Klinting dengan memelas. Nenek tua itu pun memberi Baru Klinting sedikit daging yang dimilikinya. Nenek itu hanya mendapatkan jatah sedikit daging, karena dia sudah tua dan tak hadir di pesta. "Terima kasih, Nek. Sungguh aku tidak bisa membalas kebaikanmu," ucap Baru Klinting. Sebelum Baru Klinting pergi, dia berpesan kepada Nenek tua tersebut. "Nek, apabila nanti nenek mendengar suara gemuruh, itu adalah tanda akan datang banjir besar. Segeralah Nenek menaiki lesung ini, Nenek akan selamat." Nenek tua itu keheranan mendengar pesan Baru Klinting. Akan tetapi ia mengangguk dan mengiyakan pesan Baru Klinting tersebut. Adapun Baru Klinting, dia kembali ke tengah-tengah pesta. Dia menancapkan sebatang lidi, dan berteriak memberikan pengumuman kepada penduduk desa. "Wahai kalian yang merasa hebat, aku datang ke sini untuk menantang kalian. Jika kalian bisa mencabut lidi ini, potonglah leherku!" Penduduk desa tertawa mendengar tantangan Baru Klinting. Mereka menyuruh anak-anak untuk mencabut lidi tersebut. Namun, anehnya, tak satupun berhasil mencabutnya. Kemudian, orang-orang dewasa pun maju untuk mencoba tantangan tersebut! Satu dua orang gagal, hingga mereka berusaha mencabut lidi itu beramai-ramai. Gagal. Baru Klinting kemudian membentak mereka. "Dasar kalian payah! Dengarlah, aku adalah ular besar yang telah kalian potong dan lalu kalian makan di pesta! Namun, ketika aku datang dan meminta sedikit saja daging itu, kalian malah mengusirku karena wujudku yang seperti ini! Sekarang, aku datang dan akan menghukum kalian semua!" Warga desa menyadari kekeliruannya, namun sudah terlambat. Bersamaan dengan itu, Baru Klinting telah mencabut lidi itu. Dari bekas lidi itu, terpancarlah air yang sangat deras disertai suara gemuruh yang menggetarkan hati. Banjir besar datang. Seluruh desa beserta warga desa pun tenggelam. Hanya ada satu orang yang selamat, yaitu nenek tua yang telah menolong Baru Klinting. Genangan air yang luas itu masih ada sampai sekarang, yaitu Danau Rawa Pening. Adapun Baru Klinting, berubah wujud kembali menjadi seekor ular naga besar yang hidup di bawah Danau Rawa Pening. Naga besar itu kini menjadi penjaga Danau Rawa Pening. []