Seperti dalam novel-novelnya, dalam cerpen yang ditulisnya Tohari masih saja bergelimang dalam kehidupan lapisan sosial bawah. Ia menghadirkan tokoh yang berpribadi khas, yaitu orang-orang yang selalu kesulitan menghadapi hidup karena kebodohan dan kemiskinannya, sebagaimana orang ndeso umumnya; juga nama-nama khas di desa Jawa seperti Kenthus, Minem, Blokeng, dan Samin. A.A. Navis Malin Kundang, Ibunya Durhaka MALIN KUNDANG telah terlambung-lambung namanya setelah banyak sastrawan ikut mendongengkannya menurut keperluan dan imajinasinya masing-masing. Dari tokoh dongeng anak-anak telah menjelma menjadi tokoh yang dimitoskan orang dewasa. Maka itu adalah tidak mengherankan apabila para ninik-mamak di kampungku pernah hendak mengadili Wisran Hadi di persidangan Penelitian terhadap karya sastra, yaitu novel Kemarau karya A.A. Navis ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembacanya dan menjadi referensi untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai adat dan kebudayaan yang berlaku di Minangkabau. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna. Sunday, January 05, 2020. Buku Jentera Terkasa: Kumpulan Puisi Penyair Jawa Tengah yang berisi puisi-puisi karya para penyair dari kota-kota yang dikelompokkan berdasarkan wilayah eks-karesidenan di Jawa Tengah (Banyumas, Kedu, Pati, Pekalongan, Semarang, dan Surakarta) ini merupakan salah satu wujud aktivitas penerbitan sebagaimana dimaksudkan Haji Ali Akbar Navis meninggal di Padang, Sumatera Barat, pada 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang. Karya tulis. Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005) Gerhana: novel (2004) Bertanya Kerbau Pada Pedati: kumpulan cerpen (2002) Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 3 (2001) Cerpen “Robohnya Surau Kami”, “Datangnya dan Perginya”, dan Novel Kemarau: Kajian Intertekstual Esai ini hendak mengkaji tiga karya Ali Akbar Navis (selanjutnya disingkat A. A. Navis), yaitu cerpen “Robohnya Surau Kami”, “Data Dia cukup sering mencemooh atau mengkritik kondisi sosial masyarakat dalam karya-karyanya. Sebagai laki-laki yang memiliki darah Minang, A. A Navis juga banyak memberikan latar belakang masalah sosial masyarakat Minang dalam karya-karyanya, seperti "Surau Kami", Bianglala (1963), Kemarau (1967), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan masih banyak MEMBURU HANTU.Buku ini berisi 20 cerpen karya para remaja Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Separoh (10) cerpen dalam buku ini merupakan karya pemenang dan separoh (10) lainnya merupakan karya pilihan dalam Lomba Menulis Kebahasaan dan Kesastraan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa DIY Tahun 2016. qH9Hw.